Lunturnya Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila di Kalangan Generasi Muda



Pancasila merupakan dasar dari Negara Indonesia. Lima dasar ini dirumuskan sesuai dengan nilai nilai luhur dari Bangsa Indonesia sendiri. Pancasila adalan cerminan dari sikap Bangsa Indonesia. Ada 5 sila yang menjadi pedoman yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ideologi ini adalah final yang sampai sekarang masih di jadikan pedoman Negara Indonesia. Maka dari itu, penerapan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sangat diperlukan agar semua sikap dan perilaku bangsa Indonesia berpedoman pada Pancasila yang menjadi dasar Negara kita.
Seiring dengan berkembangnya zaman, nilai-nilai Pancasila mulai luntur. Para generasi muda terseret arus dari globalisasi. Perubahan cepat yang mengubah seluruh aspek kehidupan. Rakyat berbondong-bondong mengikuti tren yang baru dan meninggalkan kebiasaan lama. Semua aspek dituntut berubah mengikuti zaman yang ada. Siapa yang bijak akan berada sesuai koridornya, dan siapa yang lemah pedomannya akan terseret arus yang negative.  
Saat ini banyak kejadian perpecahan yang berusaha menghancurkan persatuan Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya polemik yang berusaha menggoyahkan Pancasila. Ada aksi terorisme, gerakan radikal yang memusnahkan manusia demi kepentingan manusia, dan sikap intoleran masyarakat. Sebagai contoh pada saat kegiatan Pemilu 2019. Masyarakat terpecah menjadi dua kubu yang mendukung masing-masing calon Presiden. Mereka saling mengolok-olok dan berusaha saling menjatuhkan. Mereka rela mempertaruhkan diri mereka sendiri hanya untuk mendukung calon yang mereka dukung. Banyak tindakan yang irasional yang menyebabkan kondisi Bangsa Indonesia memanas dan rentan akan perpecahan. Tak hanya saat pemilu saja. Hal ini terus berlanjut sampai keputusan hasil pemilu tiba. Antar satu dan yang lain mengolok-olok lewat media sosial. Antara satu dan yang lain menciptakan sekat yang sangat kentara. Usaha-usaha persatuan pun dilakukan dengan saling meredam satu sama lain. Pemerintah sampai menonaktifkan media sosial yang dapat memicu perpecahan degan penyebaran berita bohong (hoak). Hal ini menyebabkan masyarakat yang biasa-biasa saja terkena dampak nya juga. Tidak hanya itu, kegiatan anarkis juga berlanjut dengan penyerangan gedung KPU dan Bawaslu yang menjatuhkan korban. Rakyat seolah meminta keadilan namun dengan cara yang tidak tepat. Mereka melakukan demonstrasi hingga menyerang aparat pemerintah. Generasi muda yang memiliki sifat emosional yang labil mudah untuk diombang-ambingkan ditengah suasana politik yang memanas. Mereka sebagian hanya dengan niat ikut-ikutan namun juga berujung pada sebuah tragedi yang ironi. Ini merupakan bukti bahwa Nilai-nilai Pancasial mulai luntur dikalangan generasi muda.
Melihat gambaran diatas, perlu adanya perbaikan. Generasi muda harus menjadi role model dalam masalah yang satu ini. Mahasiswa sebagai salah satu bagian dari generasi muda harus mempunyai peran yang penting dalam menjaga nilai-nilai Pancasila. Penerapan Pancasila dapat dimulai dari hal-hal yang kecil. Sebagai contoh mahasiswa yang baik kita harus mempunyai sikap toleransi antar umat beragama. Mereka harus menyadari bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya yang berbeda-beda. Contoh lain adalah sikap menghargai pendapat orang lain dalam musyawarah. Karena dalam musyawarah adalah menyelaraskan berbagai macam pikiran ke satu tujuan focus. Pengamalan-pengamalan sederhana ini harus diperhatikan walau terlihat sepale.

Sebagai mahasiswa UNY yang dalam satu lingkup kampus terdapat berbagai macam budaya dan kepercayaan, kita wajib menjunjung tinggi nilai Pancasila satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan. Kita tidak boleh egois dengan berusaha mengunggulkan suku atau budaya yang kita miliki. Sebagai masyarakat yang terpelajar kita tidak boleh terbawa dalam arus globalisasi. Kita harus memfilter semua budaya yang masuk dan memilih mana budaya yang baik dan mana budanya yang kurang baik. Kita juga jangan mudah terbawa dalam arus radikalisme yang memecah belah persatuan kita. Kita harus mempunyai pedoman yang kuat sesuai dengan kepercayaan kita masing-masing. Jangan mudah terprovokasi denga semua isu-isu yang tersebar baik dari mulut ke mulut atau dari media sosial. Jadilah pengguna media sosial yang bijak, yang bisa mengontrol diri dari terpaan kecanggihan teknologi. Mengikuti zaman memang sah-sah saja tapi kembali lagi kita harus benar-benar jeli dan teliti untuk menyaring mana yang baik dan man yang buruk
Dan akhirnya, apabila mahasiswa mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang dimulai dari hal kecil ini sangat memberikan dampak yang besar bagi mahasiswa sendiri dan lingkungan sekitar. Mahasiswa memang Agent of Change. Namun, kita harus tahu dimana tempat kita untuk menerapkan predikat sebagai Agent of Change tsb. Jadilah mahasiswa yang berpedoman Pancasila, yang mencintai negaranya tidak hanya dengn kata-kata. Berikan implementasi yang nyata walau hanya dari sebuah hal kecil. Karena kita mahasiswa. Saintis Kritis Pancasilais.

Komentar